Memori Kolektif Indonesia-Korea: Sebuah Catatan Awal
페이지 정보
VIEW 100HIT 작성일 25-12-17 09:01
본문
Dr. Sukardi Rinakit, Koh Young Hun Fellow, Korea-Indonesia Center (KIC), pada tanggal 8 Desember 2025 yang lalu telah menyampaikan kuliah umum di Gedung Humaniora, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, dengan tema Memori Kolektif Korea-Indonesia: Sebuah Catatan Awal. Berikut inti kuliah umumnya.
![]()
Memori Kolektif Indonesia-Korea:
Sebuah Catatan Awal
Dr. Sukardi Rinakit
Koh Young Hun Fellow
The Korea-Indonesia Center

Sebagai catatan awal, kalau ada orang bertanya tentang top of mind saya mengenai memori kolektif Indonesia-Korea, spontan saya akan menjawab;
Pertama, Pemberontakan Ambarawa. Seperti dicatat oleh Dr. Rostinau (Yang, 2024), fakta sejarah menunjukkan bahwa perlawanan Phorokamsiwon terhadap tentara Jepang di Ambarawa pada tahun 4 Januari 1945 menunjukkan adanya kerjasama antara Phorokamsiwon dan Heiho. Apapun latar belakangnya, tindakan mereka adalah simbolik perjuangan kemerdekaan bangsa. Phorokamsiwon untuk bangsa dan negara Korea, Heiho untuk Indonesia. Bahkan salah seorang Phorokamsiwon, Komarudin (Yang Chilsung) akhirnya bergabung dengan para pejuang Indonesia di Garut, Jawa Barat, untuk melawan Belanda. Komarudin dimakamkan di Taman Pahlawan Garut, Jawa Barat.
Kedua, gerakan demokrasi Korea tahun 1987. Gerakan mahasiswa Korea pada masa ini, yang berhasil menekan rejim berkuasa melakukan pemilihan umum secara langsung pada Desember 1987, menjadi inspirasi para aktivis Indonesia untuk membangun jaringan yang lebih sistematis. Komunikasi antara beberapa aktivis Indonesia dan Korea juga terjadi. Upaya para mahasiswa dan aktivis Indonesia baru berhasil 10 tahun kemudian (1998). Gerakan reformasi mengakhiri praktik politik otoriterisme dan menjadi pintu gerbang Indonesia memasuki sistem politik yang demokratis.
Ketiga, hallyu. Korean Wave bukan saja membuat anak-anak Indonesia lebih mengenal budaya Korea dibandingkan budayanya sendiri seperti hasil penelitian Gangsim Eom (Tempo, 29/12/24), tetapi ada pula timbal balik. Budaya Indonesia merembes juga ke dunia kreatif Korea seperti makanan, batik, dan film.
Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa memori yang tersimpan di alam bawah sadar antara bangsa Korea dan Indonesia adalah memori yang baik. Ada kerjasama perjuangan, inspirasi dan kreativitas.

Apabila kita melihat perjalanan suatu generasi, secara common sense bisa disimpulkan bahwa narasi dominan yang dikonsumsi oleh generasi tersebut memengaruhi preferensi kehidupan mereka, khususnya dalam gaya hidup. Narasi dominan itu, baik yang bersumber dari film, komik, lagu, makanan, dan lain-lain memenuhi alam bawah sadar (sub-consciousness) dan akan muncul menjadi tindakan ketika mereka sudah mempunyai sumberdaya.
Dalam konteks Indonesia, generasi yang lahir di tahun 1900-1960, alam bawah sadar mereka diisi oleh narasi-narasi yang berakar dari Eropa dan Amerika Serikat. Karakteristik mereka etnonasionalis dan tindakannya kolektif. Ketika generasi ini tumbuh menjadi kelompok produktif dan mempunyai sumberdaya maka preferensi mereka adalah barang-barang produk Eropa dan Amerika Serikat. Mereka membeli Mercedes Bens, BMW, Ford, Jeep, dan lain-lain. Mereka juga gemar pergi ke negara-negara Eropa atau Amerika Serikat.
Generasi 1960-1980, lahir dengan dominasi narasi dari Jepang. Film, komik, drama, dan lain-lain dari Jepang. Karakteristik mereka cenderung radikal dan menyukai tindakan kolektif. Ketika mereka sudah dewasa dan mempunyai uang, preferensi mereka adalah produk-produk Jepang. Mereka sangat suka Honda, Toyota, Daihatsu, Sony, dan lain-lain.

Generasi 1980-2000, lahir dengan pengaruh narasi kuat dari China. Mereka generasi yang adaptif dan rasional. Mereka sekarang menjadi eksekutif muda, professional, dan menyukai produk-produk dari China. Produk Amerika, Eropa, Jepang dan Korea, terutama mobil, kalah bersaing dengan produk China seperti BYD.
Generasi 2000-2020, lahir dengan pengaruh hallyu. Ini generasi dengan karakteristik kreatif dan kolaboratif. Narasi yang memenuhi alam bawah sadar mereka adalah K-pop, K-drama, K-beauty, K-food, Webtoon, games, dan lain-lain.
Bisa dibayangkan, jika dengan negara-negara yang mempunyai memori kolektif kurang baik, misalnya Belanda dan Jepang, orang Indonesia bisa melupakan dan berkolaborasi dengan baik, apalagi dengan Korea yang seluruh memori kolektifnya adalah bagus.
Untuk 15-20 tahun ke depan, dominasi pasar produk Korea di Indonesia secara prediktif akan sangat kuat. Demikian juga dengan produk Indonesia di Korea.
Indonesia Emas 2045 --dilihat dari narasi alam bawah sadar generasi 2000-2020, kemungkinan besar akan terwujud dalam formula kolaborasi Indonesia-Korea. Oleh karena itu, para pembuat keputusan Indonesia dan Korea perlu semakin meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, industri, dan kebudayaan demi masa depan yang lebih maju dan sejahterah
